1. Kelas awet kayu I memiliki jenis seperti kayu jati, ulin, sawo kecik, merbau, tanjung, sonokeling, johar, bengkirai, behan, resak, dan ipil . Umur pemakaiannya mencapai 25 tahun.
2. Kelas awet kayu II memiliki jenis seperti kayu weru, kapur, bungur, cemara gunung, rengas, rasamala, merawan, lesi, walikukun, dan sonokembang. Umur 3. pemakaiannya mencapai 15-25 tahun.
3. Kelas awet kayu III memiliki jenis kayu ampupu, bakau, kempas, keruing, mahoni, matoa, merbatu, meranti merah, meranti putih, pinang, dan pulai. Umur pemakaiannya mencapai 10-25 tahun.
4. Kelas awet kayu IV memiliki jenis kayu yang kurang awet seperti agatis, baayur, durian, sengon, kemenyan, kenari, ketapang, perupuk, ramin, surian, dan benuang laki. Umur pemakaiannya mencapai5-10 tahun.
5. Kelas awet kayu V tergolong kayu yang kurang kuat seperti jabon, jelutung, kapuk hutan, kemiri, kenanga, mangga hutan, dan marabung. Umur pemakaiannya mencapai 5 tahun.
Nah, masing-masing kelas pun akan mempunyai tingkat keawetan berbeda-beda juga. Ada beberapa faktor yg mempengaruhinya antara lain:
1. Area tanam (subur atau tidaknya area tanam). Untuk sebagian besar kayu (TIDAK semuanya), daerah yang relatif tidak subur akan menghasilkan jenis kayu yang lebih baik dibandingkan dengan daerah yang subur.
2. Umur pohon. Secara teori, dengan asumsi area tanam sama, maka pohon dengan usia lebih tua cenderung menghasilkan kayu dengan kualitas lebih tinggi dibandingkan dengan pohon yg usianya lebih muda.
3. Kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan tertentu juga mempengaruhi kualitas kayu. Misalnya area tanam pohon dekat pabrik dengan pencemaran lingkungan dari bahan-bahan kimia tertentu, mungkin akan mempengaruhi kualitas kayu.
Keawetan kayu berhubungan erat dengan pemakaian atau penggunaannya. Kayu dikatakan awet bila mempunyai umur pakai yang lama. Kayu berumur pakai lama bila mampu menahan bermacam-macam faktor perusak kayu. Dengan kata lain keawetan kayu ialah daya tahan suatu jenis kayu terhadap faktor-faktor perusak yang datang dari luar kayu itu sendiri.
Namun, yang harus diketahui adalah bahwa "berbeda penggunaan, berbeda pula pemilihan kayu dan keawetannya". Kayu yang awet dipakai dalam konstruksi atap, belum tentu dapat bertahan lama bila digunakan di laut, ataupun tempat lain yang berhubungan langsung dengan tanah. Demikian pula kayu yang dianggap awet bila dipakai di Indonesia. Serangga perusak kayu juga berpengaruh besar. Kayu yang mampu menahan serangga rayap tanah, belum tentu mampu menahan serangan bubuk. Oleh karena itu tiap-tiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda pula. Misalnya keawetan kayu meranti tidak akan sama dengan keawetan kayu jati. Ada kalanya pada satu jenis kayu terdapat keawetan yang berbeda, disebabkan oleh perbedaan ekologi tumbuh dari pohon tersebut.
PENYEBAB KERUSAKAN KAYU dari NON MAKHLUK HIDUP.
Faktor non-makhluk hidup ialah pengaruh yang disebabkan oleh unsur pengaruh alam, keadaan alam itu sendiri, dan faktor lingkungan sekitar.
1. Faktor fisik, ialah keadaan atau sifat alam yang mampu merusak komponen kayu sehingga umur pakainya menjadi pendek. Yang termasuk faktor fisik antara lain suhu dan kelembaban udara, panas matahari, api, udara, dan air. Semua yang termasuk faktor fisik itu mempercepat kerusakan kayu bila terjadi penyimpangan. Misalnya bila kayu tersebut terus-menerus kena panas maka kayu akan cepat rusak seperti retak-retak kecil hingga keretakan parah.
2. Faktor mekanik, terdiri atas proses kerja alam atau akibat tindakan manusia. Yang termasuk faktor mekanik antara lain benturan, gesekan, tarikan, tekanan, dan lain sebagainya. Faktor mekanik berhubungan erat sekali dengan tujuan pemakaian. Sebagai contoh kayu bengkirai pada dasarnya termasuk kategori kayu yang kuat. Namun, kayu bengkirai yang digunakan sebagai "rangka atap rumah" kemungkinan besar akan JAUH lebih awet jika dibandingkan dengan kayu bengkirai yang digunakan untuk "bokken / pedang kayu" yang setiap saat dibenturkan sebagai sarana latihan.
3. Faktor kimia, juga mempunyai pengaruh besar terhadap umur pakai kayu. Faktor ini bekerja mempengaruhi unsur kimia yang membentuk komponen seperti selulosa, lignin dan hemiselulosa. Unsur kimia perusak kayu antara lain pengaruh garam, pengaruh asam dan basa.
PENYEBAB KERUSAKAN KAYU dari MAKHLUK HIDUP.
Makhluk hidup perusak kayu beraneka macam, kebanyakan serangan perusak ini sangat cepat menurunkan nilai keawetan dan umur pakai kayu. Ada jenis yang langsung memakan komponen kayu tersebut, ada juga yang melapukkan kayu, mmengubah susunan kimia kayu, tetapi ada pula yang hanya merusak kayu dengan mengubah warna menjadi kebiru-biruan kotor. Jenis-jenis serangga sering melubangi kayu untuk memakan selulosa dan selanjutnya menjadikan tempat bersarang. Contoh perusak kayu yang termasuk kategori makhluk hidup antara lain:
1. Jamur.
2. Serangga (rayap, bubuk).
![]() |
| Serangga pemakan kayu |
CATATAN PENTING:
1. TIDAK ada kayu yg 100% tahan terhadap faktor-faktor penyebab kerusakan kayu yang telah disebutkan di atas (baik makhluk hidup maupun non makhluk hidup). Bahkan tim Dynasty & KIMU pernah menemui kayu jati yang dimakan oleh serangga pemakan kayu (bubuk). Padahal konon katanya kayu jati ini tahan terhadap serangan serangga pemakan kayu.
2. Sebagus apapun kualitas kayu, tetap ada kemungkinan kerusakan kayu. Hanya saja mungkin berbeda jangka waktu daya tahannya.
Nah, demikian sedikit informasi tentang perkayuan sepanjang pengalaman tim Dynasty & KIMU dalam mengolah kayu untuk dijadikan sarana latihan beladiri.
Semoga bermanfaat dan terima kasih :)
-Dynasty Martial Arts-

No comments :